Ahad, 2009 Oktober 25

Aku meninggalkan keramaian pesta
dalam kesipuan hujan. Basah.

Neon-neon menyoroti bibir-bibir
yang diretakkan kemanisan usia

Kegalauan kota menyisih, menyudutkan realiti
sebagai martir yang mati berkali-kali.

Kekaguman seperti bunga-bunga asing,
tumbuh dalam lumpur, menyita baki muasal.

Di kerlingan pintu, kekasih lama tertegun
tersipu di antara jerit tak berjiwa.

Mimpi buruk benar telah menguntum diam
dalam genggam lena yang tak dikenal.

Tanpa wajah, aku mencari sisa lumpur
pada siluet oktober kuala lumpur


25okt

Khamis, 2009 Oktober 22

seluruh isi bumi akan jatuh ke atasmu
ke atas pura, masjid dan gerejamu
seperti tikus-tikus makmal yang gembira
di malam hermafrodit, kelelawar mabuk
wangi alkohol yang menyaturasuk

Mula dari segala pelayaran adalah
pengakuan kebodohan
atau sebenarnya kau tak pernah
meninggalkan pengap kamarmu
Kita serupa gerilya yang sentiasa
bergulat menyingkir diri
memenjara diri
dari kebebasan--
ketakutan terhebat!


okt22

Rabu, 2009 Oktober 14

tembang buat Amaloud

"weakness or strength; you exist, that is strength"

I

seperti yang selalu kita nanti
dari kereta-kereta mayat
yang menyusuri jalanan yang terang
adalah lopong-lopong kehampaan
dari arca-arca genosida yang menari

tapi ini janji akan selalu hangus
ketika kau bangun pada parak pagi
seorang lelaki kesiangan
angin yang semilir tersenyum pahit
menuju kandas entah di mana


II

seperti nafas-nafas kita yang berat
serigala yang bergerilya di benak
akan terus begitu setelah seribu haiku
seribu sonet yang datang melintang
dan gerimis tak mampu lagi kau terjemahkan

- O kotaku yang sombong,
kubiarkan kau menyalak sendirian
dengan lampu-lampu jalanmu yang remang
seperti askar upahan yang kurus
kerana malam-malammu tak membuatku lebih haus


III

seperti suara jangkrik yang timbul-tenggelam
di antara fiksi lapuk dan irama mozart
kampung-kampung yang tidak ditandakan
membuat nostradamus menggaru kepala di kuburan

-- Perancang. Peramal. Pengembara Yang Gagal.
Permenungan, "terlalu lama untuk yang seketika!"

Hari ini adalah Kemungkinan yang membabibuta.

raja dan permaisurinya,
istana-istana sakti,
kesatria dan para bidak,
Hitam atau Putih,

Selesai perlawanan,
semua harus masuk dalam kotak catur, bukan?

Juga seperti masa lalu yang sering memberangkatkan kita
ke tidur panjang yang melelahkan,
pantai putih yang sedih, bau cadas yang tengik,
pasir hitam, sehitam purnama kota kita yang tandus.
Tapi bukankah kita masih di sini; menikmati pekat tuak,
mendengarkan tembang sumbang yang tak pernah selesai?

Seperti, selalu.

15okt

Ahad, 2009 Oktober 11

semangat

:buat yg bagi aku buku free

hari ini kita merampas kehausan
tenggorokan perit anak-anak proletar

sebuah rumah batu yang begitu asing
usia muda yang keras kepala

tapi jangan kau hela dulu nafas beratmu
pada saison yang melelahkan Rimbaud
atau alusi perempuan mimpi Camus

seperti kedegilan kota ini
sonsong aspal hitam yang memadat
eram di kerak dada-dada kering

sekali lagi, sekali lagi...



kinokuniya, 10 oktober

Jumaat, 2009 Oktober 09

surat untuk komandan

"if you tremble indignation at every
injustice then you are a comrade of
mine" - Che.
1928-1967


Komandan, apa khabar revolusi di Sana?
Apa lucifer telah kau jatuhkan,
dan telah mampuskah semua setan?

Kerana tuhan-tuhan di sini
masih bermimpi buruk
tentang bayonetmu
masih mendengar deru pelurumu

Atau para malaikat juga bingung
berurusan denganmu
yang sering memalsukan pasport
menceroboh alam kami,
yang masih bermimpi tentang mimpimu

Ahad, 2009 Oktober 04

langit tak lebih hitam

:buat dia di masa depan

langit tak lebih hitam
daripada bayangmu
awan pudar yang tersasar
mengisyaratkan tanya
di kelana mimpi lelakiku

di getar jendela
rumah-rumah yang menyimpan
rahsia
barangkali kau sedang
menulis puisi cinta
lewat hon-hon kereta
yang memaki kebodohan kita

tapi langit tak lebih hitam
daripada tangismu
kudengar isak yang memanggil
pada parau
aksara para kekasih yang
terkunci di etalase batu
: serupa bisu

bulan pucat
anjing-anjing malam yang meliar malas
raungan usia muda
kehambaran dan tak dipeduli
kerana kau adalah gerimis sore
yang tersisa malam ini

tapi langit tak lebih hitam
daripada diammu
kesenyapan terkepung oleh
nafas-nafas buruk
mengelinding di pojokan waktu
bagai mimpi wangi yang
menyerbu tidurku

di pagi yang biasa
ketika suria yang masih mabuk
oleh bau embun yang merasuk
jalan-jalan kota kita yang muram
lalu aku terjaga dari lena yang suram
-- apakah kau akan tiba
ketika langit masih tak lebih hitam
daripada semalam?

Selasa, 2009 September 29

pintu

seribu pintu muncul
merusuh bagai demonstran
di musim yang lahir
dari gusar mataharipagi
lantas mengingatkanku
masakanak yang tak peduli,
serta keramaian hujan yang
membuatku tak butuh alasan
Di muka pintu teronggok
pasi wajah semalam, hangus
di belantara paling kejam
ketika kutatap luka sejarah
di setiap nyanyi sumbang
jengkrik malam yang jalang,
lalu tubuhku larut diarak kelodak
sungai klang yang muram
Dan kembali aku mengetuk
pintu masa lalu,
di mana serdadu waktu
betah mengusirku
sehingga aku menjadi pelarian
di halaman tidurku sendiri

Isnin, 2009 September 28

kamar batu

Selalu kamar batu ini
cukup terang
buat meniupkan usia
tidak peduli
lalu menjadi kibaran
mimpi-mimpi
yang sentiasa merindu
pada kebebasan
si kelawar yang beruntung

Juga cukup kebal dari
malam bebal
peluru-peluru dingin
hauskan amis
yang sarat tersumbat
di pembuluh-pembuluh curang

Atau kegarangan aspal,
yang siap merobek
setiap hektar
tubuh si pecundang
yang lalu bangkit dari kubur?

Khamis, 2009 September 17

amsal zaman

berjalan serupa kepayang
Kesunyian yang lebih akrab
di antara deretan etalase-etalase
dan patung-patung sepi
gerimis menggerogoti troatar,
sebuah batas pesta siang hari.
Pada setiap jam yang hilang larut
maut lalu tumbuh,
bersama sepotong sajak kematian.
September muda, amuk para penyair
menjadi jinak dalam semusim
bersekutu dengan sajak
yang dikutuk untuk selalu menjelma
dari berontak angin
dari ngauman rumput dan alang-alang
yang merindukan dingin
ketika Kota hanya bongkah-bongkah
pongah kesedihan masa lalu,
masa depan yang nyaris
tak menyisakan apa-apa

Jumaat, 2009 September 04

malam

Malam menghendap
sebelum kamar
menjelma alun-alun biadap
Ketika larut, kesenyapan
serupa mayat
cuaca pecah dalam gumam
melulu menjadi
kesundalan segala dendam
darahku menggelagak
merangkaki kebutaan sajak
-- yang lebih pekat dari tuak?
Malam membentak.
mekar, lalu meretak.
Ada malaikat ceroboh
rumah-rumah tak berjudul
ketika anak-anak proletar
memeluk mimpi yang sugul
Tapi siapa yang bernyanyi sadis
dalam keramaian yang ajaib?
Langkahku kian tandus
dalam penyaksian sebuah ritus.
Ketika gerimis pelan-pelan
menembus,
sepi di bulevar mampus